Rabu, 28 Januari 2009

DOA DI AWAL TAHUN

Bis malam berjalan beriringan, geraknya tak begitu laju, walaupun didalam jalan tol. Sungguh menjengkelkan, sudah bayar mahal, tetap saja masih terkena macet. Sebelum naik bis juga sudah dipusingkan oleh harga tiket yang telah membungbung tinggi jauh diatas normal. Maklum malam ini merupakan malam pergantian tahun yang juga bertepatan dengan libur sekolah.
Sebenarnya aku masih rindu bunda, aku masih ingin berlama-lama disana, aku masih ingin mendengarkan nasehat beliau sambil sesekali tangannya yang sudah susah untuk bergerak karena stroke, tetap berusaha untuk membelai aku dengan penuh cinta.


Bunda belaian kasih sayangmu pasti akan ku kenang slalu…. Sesekali ku coba pejamkan mata… berharap ketika membuka mata, memulai tahun yang baru dan dengan harapan baru
Malam terus melaju, antrian kendaran seakan tetap tak bergerak, musik dalam bus malam sedikit menggangu, disetelnya keras, sehingga membuat tak bisa memejamkan mata. Masih memandang keluar jendela, membuang pandangan keluar, yang kudapat hanya gelap, diselingi bintang-bintang yang masih bersembunyi, dimana kah kamu berada?
Bis malam terus melaju, menembus malam yang penuh kabut, membawa aku kembali ke kota dimana aku berjuang melawan hidup yang kadang keras untuk mewujudkan mimpi, jauh dari bunda. semoga menjadi ananda kuat seperti karang yang kokoh menghadang gempuran ombak.
Tak terasa aku makin terlelap dalam mimpi yang indah, kulihat bunda sedang menunggu di teras rumah, melambaikan tangan, senyumnya begitu lembut membasuh hati yang gelisah. Alangkah senangnya melihat bunda sehat, tangannya dapat bergerak dengan sempurna. Semoga Bunda….Semoga…doa tulus ananda amin….
"De, bangun de", tepuk lembut sang kondektur bus. Kembali aku tersadar, tak terasa telah lama mata ini terpejam.
"Turun diterminal lama kan"? Tanya Sang kondektur bus
"Iya pak" angguk aku pelan, bersama kantuk yang masih mengelayut di kelopak mata
"Siap-siap de" kondektur bus memberi aba-aba
Aku pun bersiap-siap, tas ransel setia pun tak lupa sudah bersandar di pundak, aku menuju pintu, berlahan bus malam pun berhenti.
Sang kondektur membuka pintu dan seketika itu pula tukang becak, tukang ojek saling berebut menawarkan jasa, sebenarnya aku ingin menunggu pagi hari agar nanti bisa naik angkutan kota dengan biaya murah, tapi kulihat jam ditangan waktu masih menunjukan jam 4 pagi, lumayan fikirku aku kalau bisa sampai rumah kontrankan masih bisa istirahat. Walaupun aku sadar, ketika aku naik ojek, mungkin aku tidak bisa makan hari ini. Karena uang makan hari ini habis untuk banyar ojek
"Ojek mas?" tawar salah satu pengendara ojek
Aku hanya menganguk kecil
Tiba-tiba Seseorang menghalangi langkah, sementara tas ranselku sudah ditata oleh tukang ojek
"Dah, ini untuk saya aja, buat penglaris" pinta iba teman tukang ojek itu, dan akhirnya temannya pun setuju
Tas ransel aku pun berpindah ke motor disebelahnya
Udara malam begitu dingin, pesta tahun baru sudah berakhir, jalan raya terlihat sepi. Sementara aku menuju rumah kontrakan
"Rame tarikannya pak?" aku mencoba membuka percakapaan
"Wah kebetulan lagi sepi mas, saya saja baru dapet penumpang 1, yaitu mas. Ditambah lagi sekarang banyak saingan, mana besok saya harus bayar cicilan, uang pinjaman yang bapak bayar perhari"
"Emangnya untuk apa pak?" penasaranku semakin dalam
"Ibu bapak sakit, lalu saya pinjam uang" ujar tukang ojek lesu
Aku hanya bisa termenung, hatiku kembali teringat bunda disana
"Stop pak, disini saja" tak terasa sudah sampai depan rumah kontrakan
"Berapa pak ongkosnya?"
"Ya terserah mas saja, mau ngasih berapa"
"Nanti kalau saya ngasih kekecilan bapaknya rugi lo?" ujar ku
"Wah tidak apa mas, saya iklas"
Berlahan uang Rp 50.000 ku serahkan kepada tukang ojek
"Wah saya ga punya kembaliannnya mas"
"Sudah untuk bapak saja, semoga bermanfaat" ujar ku yakin
Sekejap itu pula tukang ojek itu memeluk aku, nafasnya terasa berat, menahan emosi yang haru
Dengan terbatah..batah diapun berucap....
"Terimakasih ya mas…terimakasih….terimakasih.. SEMOGA DITAHUN BARU ini rezeki mas berlimpah" sambil pelan meninggalkan aku didepan mulut gang, sesaat kemudian sosoknya mulai menghilang di tikungan jalan
akupun masih terpaku, bagai paku bumi yang kokoh, menghujam bumi
"Terimakasih PAK, atas doa tulus mu"
ku coba memejamkan mata, kulihat bunda tersenyum...
doa tulus ananda untuk bunda....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar